AGUS YUDHOYONO BERSINAR TANPA BINTANG
by Cipta Panca Laksana*
(Pegiat Media)
Pilkada DKI memang magnet sendiri. Semua media dan social media ramai membicarakannya. Tiga kandidat sudah resmi mendaftar ke KPUD. Ada petahana Ahok - Djarot, kemudian ada penantang Anies – Sandi Uno dan Agus Yudhoyono – Sylviana Murni.
Dari 3 kandidat, nama Agus Yudhoyono paling menarik pemberitaan media dan socmed. Dari analisa pemberitaan yang dilansir Metro TV sehari setelah ketiga nama mendaftar ke KPUD, berita tentang Agus Yudhoyono mendominasi dengan 57%, Ahok-Djarot 26% dan terakhir Anies-Uno 17% dari 3650 pemberitaaan.
Kemunculan nama Agus di persaingan pilkada DKI memang di luar dugaan. Namanya nyaris tak pernah disebut sebagai kandidat di luar nama-nama populer seperti Prof. Yusril Ihza Mahendra, Sandi Uno, Lulung, Rizal Raml, Risma, Ridwan Kamil dan nama lain. Namun, di luar dugaan banyak orang, koalisi 4 partai yang disebut Poros Cikeas ini memunculkan nama Mayor Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra pertama SBY, berpasangan dengan Deputi Gubernur DKI Bidang Pariwisata dan Kebudayaan, Profesor Sylviana Murni.
Nama AHY tiba-tiba ramai diberitakan. Media dan publik tidak menyangka perwira muda TNI yang cemerlang itu akan dimunculkan oleh Poros Cikeas menjadi penantang petahana, Ahok-Djarot.
Sesuai UU Pilkada, calon kepala daerah yang berasal dari anggota TNI/Polri/PNS atau anggota legislatif, harus mengundurkan diri. Dengan kata lain, kalau AHY mau maju di pilkada DKI otomatis harus mengundurkan diri dari TNI. Padahal karir militernya sedang bagus. Agus saat itu menjabat Koamandan Batalyon Infanteri Mekanik Kodam Jaya di Tangerang.
Banyak yang menyayangkan hal itu. Banyak yang berkomentar, SBY tega mematikan karir militer putranya demi ambisi menjadi Gubernur DKI. Banyak juga yang menyayangkan, Agus masih terlalu muda dan belum punya pengalaman untuk maju di pilkada DKI. Pertanyaan yang wajar dari publik.
Tapi apa iya SBY tega mematikan karir miter anaknya? Oya, sebelum lanjut, kita lihat dulu track record pendidikan AHY dan karirnya di TNI. AHY lulusan SMP 5 Bandung, SMA Taruna Nusantara, Akmil, meraih gelar MSc Strategic Studies dari Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University. Webster University, Harvard Univesrsity, Sekolah Komando di Fort Benning dan Fort Leavenwoth, Amerika.
Saat di SMA Taruna Nusantar AHY jadi lulusan terbaik. Begitu juga di Akmil jadi peraih Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik. Bahkan di Fort Benning AHY juga menjadi lulusan terbaik di angkatannya. “Jadi begini, terus terang saja. Mayor Agus ini sejak SMA di taruna sudah nomor satu. Nilainya sampai sekarang belum ada yang menyaingi. Ketika lulus di akademi militer, juga memperoleh Adhi Makayasa yang belum tersaingi adalah tiga-tiganya didapat, yaitu mental fisik dan intelektual," terang Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo kepada media menanggapi pengunduran diri AHY.
Kembali ke laptop. Apakah benar SBY mematikan karir militer anaknya? Secara karir kepangkatan bisa jadi SBY mematikan karir militer anaknya. Kakek Agus (Sarwo Edhi Wibowo) seorang Jenderal TNI, ayahnya SBY juga seorang Jenderal TNI. Sementara Agus berhenti di pangkat perwira menengah, Mayor. Pangkat yang masih sangat jauh dari puncak karir seorang militer menjadi Jenderal. Dan kemudian langsung diterjunkan menjadi calon gubernur DKI Jakarta.
Publik kaget. Perwira muda cerdas dan karirnya bagus, tiba-tiba dicalonkan menjadi kepala daerah. Karir militernya berhenti. Mungkin Agus sendiri pasti bermimpi mendapatkan bintang di pundaknya. Makanya dalam pidato politik pertamanya usai mendaftar ke KPUD DKI, Agus sedikit menahan tangis. Mungkin sedih harus meninggalkan karir militernya yangs udah berjalan 16 tahun dan mungkin sedih impiannya menjadi jenderal sirna.
Tapi apakah SBY mengambil keputusan itu tanpa perhitungan? Sepenjang pengamatan saya, SBY termasuk orang yang sangat hati-hati dalam mengambil keputusan. Setiap keputusannya biasanya selalu berdasarkan data dan analisa yang cermat dan matang. Apalagi ini menyangkut masa depan putranya sendiri. Bisa dipastikan SBY tidak asal ambil keputusan.
Di era supremasi sipil setelah reformasi, terjadi perubahan drastis dalam jalur pemasok pemimpin baik di pusat maupun di daerah. Kalau di era Orba, pemimpin daerah umumnya berasal dari ABRI (TNI sekarang) dan birokrat PNS sipil, di era setelah reformasi sumber pemimpin daerah lewat pemilihan langsung berasal dari beragam profesi. Mulai dari pedagang mebel, arsitek, PNS, politisi partai, pengusaha, dokter, dosen, notaris sampai artis dan profesi lainnya. Ada sedikit dari TNI yang biasanya sudah pensiun atau mendekati pensiun.
Sebetulnya Agus bukan orang pertama yang pensiun muda dari dinas aktif militer untuk terjun di pilkada. Ada Bupati Batang, Yoyok Riyo yang pension di usia 40 tahun saat berpangkat Mayor juga. Ini yang banyak tidak dipahami oleh publik, di era pemilihan langsung, siapa saja bisa maju ikut pilkada asal punya kapasitas, popularitas dan tentu saja modal. Karena harus diakui sistem demokrasi dalam pemilihan langsung ala Indonesia umumnya memerlukan modal yang cukup besar tergantung kondisi daerah masing-masing.
Dan menariknya, orang-orang dari generasi saya atau generasi di atas saya, sebagian masih berpikir dalam pola Orba. Di kepala mereka posisi gubernur itu kalau untuk tentara harus sudah jenderal. Padahal keadaan sudah berubah banyak. Hampir tak ada jenderal yang bisa jadi gubernur di era sekarang. Karena mereka kalau ikut biasanya kalah berkompetisi dengan anak-anak muda generasi di bawahnya. Lihat saja di Lampung, pengusaha Ridho Ficardo menjadi gubernur di usia 34. Artis Zumi Zola di Jambi jadi gubernur di usia 33. Tuan Guru Bajang Zainul Majdi jadi gubernur di NTB di usia 36. Jadi kalau tentara menunggu berpangkat jenderal ikut kompetisi pemilihan gubernur, dipastikan usianya sudah di atas 50 an. Sudah tidak menarik buat pemilih muda.
Di beberapa pemilihan bupati malah Bupati Bangkalan Makmun Ibnu Fuad terpilih di usia 23 tahun. Lepas dari faktor orang tuanya yang bupati sebelumnya, ada fenemona orang muda maju pemilihan kepala daerah dan menang. Suami artis Arumi Bachsin, Emil Dardak terpilih jadi Bupati Tranggelek di usia 32 tahun. Menurut walikota Bandung Ridwan Kamil yang juga tergolong masih muda, di era sekarang faktor usia dan pengalaman tidak relevan diperdebatkan dalam pemilihan kepala daerah. Karena system birokrasi pemerintah bisa dipelajari dalam waktu singkat. Apalagi untuk perwira TNI, mereka juga sudah akrab dengan birokrasi pemerintah ala TNI.

